
Tanggal 10 Mei 2021 yang lalu, saya kehilangan orang yang paling saya kasihi: Mama. Terkejut, kaget, sedih, semua campur aduk jadi satu. Kami semua kaget sudah pasti, karena beliau pergi tidak dalam keadaan punya sakit yang diketahui. Bahkan serangan jantung itu terjadi pada saat beliau sedang melakukan WA Call dengan adik saya yang saat ini berada di luar Indonesia.
Masih teringat, hari itu berjalan seperti biasa dan saya sedang bekerja di ruang depan. Sore harinya terdengar suara batuk beliau ketika sedang WA Call. Mungkin itu batuk terakhir kali, yang kami sendiri tidak sadari. Hari menjelang sore, saya merasa agak aneh, karena beliau tidak bersuara sama sekali. Padahal biasanya kalau sudah jam segini, Mama akan bertanya “mau makan apa?”.
Saya masuk ke kamar Mama, berpikir dia sedang tidur. Namun, mulai merasa sedikit gelisah karena saya melihat tidak ada gerakan seperti orang yang selayaknya bernapas. Jadi, saya mulai membangunkan beliau—yang tidak juga kunjung bangun. Panik mulai menyerang, saya mencoba mengangkat beliau ke kursi roda, tapi tidak kuat. Akhirnya saya harus baringkan Mama di lantai, untuk terlebih dahulu mencari pertolongan. Sudah tidak bisa berpikir apa-apa, tapi hati kecil saya sudah tahu kalau Mama sebenarnya sudah tidak di dunia ini.
Saya berlari di koridor apartemen tanpa alas kaki, berteriak mencari pertolongan. Sunyi. Sampai akhirnya akal sehat mulai kembali. Saya telpon adik saya, kemudian semua saudara dan teman, semua yang saya ingat namanya. Berhasil! Tidak lama kemudian mulai ada sekuriti yang naik ke lantai tempat tinggal saya, mungkin ada tetangga yang mendengar teriakan minta tolong saya, dan mereka menelpon sekuriti di bawah. Tak berselang lama, beberapa saudara saya juga sudah di situ. Thanks God!
Yang makin menambah sedih dan ‘curhat’ saya ke Tuhan adalah beliau pergi 4 hari sebelum ulang tahunnya. Saya dan beberapa saudaranya bahkan sudah menyisihkan dan membelikan hadiah. Saya sendiri berencana mengajak beliau keluar untuk makan atau staycation. Kasihan selama pandemi ini Mama jarang sekali keluar rumah. Sayangnya, itu menjadi rencana yang tidak akan pernah terjadi.
Hari yang aneh…
Hari-hari setelah itu, saya merasa berat setiap kali pulang. Teringat semua memori bersama Mama setiap kali pulang. Sedih rasanya, melihat semua barang-barang Mama masih tersimpan rapih di tempatnya, seolah-olah semua ini hanya mimpi dan mama akan kembali untuk menggunakannya lagi. Hari-hari pertama kehilangan beliau, beberapa orang menelpon untuk menghibur. Ya orang-orang yang juga pernah merasakan kesedihan yang sama. Mereka menegaskan kalau kesedihan itu akan berlalu, tapi rasa kehilangan tidak akan pernah hilang. Ada waktu-waktu dimana saya masih seperti tidak percaya kalau Mama sudah tidak ada, padahal baru malam sebelumnya, kami mengobrol dan bercanda seperti biasa. Adik saya juga merasakan hal yang sama.
Mama adalah sosok perempuan tangguh yang membesarkan kami seorang diri. Beliau adalah contoh manusia yang mempunyai value moral dan rasa humanis yang tinggi. Tangannya selalu memberi, tidak pernah meminta. Selama Mama hidup banyak contoh yang kami sebagai anak-anaknya belajar dari beliau. Tidak pernah keluhan keluar dari mulutnya, melainkan hanya kasih dan nasehat untuk selalu percaya dan bersabar. Kami bersaudara tumbuh bersama mama, melewati banyak kesukaran dan kebahagiaan. Terima kasih untuk semuanya, Ma.
Untuk beberapa waktu, saya merasakan yang namanya kebingungan, tidak tahu harus berbuat apa. Mama adalah fondasi dan menara doa di dalam keluarga kami. Kehilangan dia berimbas banyak dari sisi emosional. Apalagi ditambah keadaan yang sedang tidak kunjung membaik akibat pandemi dan beberapa hal kehilangan yang bertubi-tubi sejak 2020 silam. Bagaimana bisa meneruskan hidup tanpa Mama?
Seiring waktu, keadaan mulai kembali normal. Walaupun memang rasa kehilangan tidak akan pernah hilang, ironis. Pada akhirnya, kehilangan pasti akan kita alami selama kita masih manusia, dan masih hidup. Siapakah yang mempunyai kuasa atas waktu dan kematian? Itu misteri Yang Maha Kuasa. Hanya makna atas kenangan yang bisa kita berikan di dalam rasa kesedihan dan kehilangan itu.
Di dalam kebingungan, saya mencoba belajar akan makna dari kehilangan. Menemukan bahwa menghargai dan mengapresiasi hidup di saat ini, akan menjadi sangat berharga ketika sesuatu yang sangat kita kasihi itu sudah tidak ada lagi di situ. Kita semua akan kehilangan, itu sudah pasti. Bahkan terkadang–di konteks yang lain–kita sering kehilangan diri kita sendiri, bukan? Tapi coba diingat-ingat, pada saat kita stress dan berduka di dalam kehilangan itu pun pasti kita belajar sesuatu: menjadi lebih kuat, lebih bijak, lebih paham, lebih menghargai.
Teringat sepenggal lirik lagu Letto, Memiliki Kehilangan: “Rasa kehilangan, hanya akan ada jika kau pernah merasa memilikinya” dan Supermarket Flowers-nya Ed Sheeran: “A heart that’s broke is a heart that’s been loved“. Kehilangan tidak pernah menyenangkan, tapi kehilangan itu juga yang menguatkan makna yang ada untuk orang-orang yang kita kasihi.
Selamat jalan, Mama. Forever, we will never forget you.
English:
Meaning of Our Loss
Last 10th of May, 2021, I lost the person I love the most: Mom. Surprised, shocked, sad, all emotions mixed up. We were all shocked for sure, because she left without any words and known illness. Even the heart attack occurred when she was on a call with my sister, who is currently living abroad.
Still remember, that day went on as usual, as I was working in the front room. In the afternoon, heard she coughing when she was on a call. Maybe it was her last cough, which we ourselves didn’t realise. In late afternoon, I felt a bit strange, because she didn’t make a sound or called me at all. Usually in that hour, Mom will ask “what do you want to eat, son?”.
I walked into Mama’s room, think she was sleeping. However, starting to feel uneasy since I saw her not moving and breathe. So I started to wake her up—and she didn’t. Panic attack! I tried to lift her into her wheelchair, but failed. Finally I had to lay her body on the floor, then seek help. I couldn’t think of anything anymore, but deep inside my heart, somehow I already knows that Mom was actually no longer in this world.
I ran down the corridor of the apartment barefoot, screaming for help. Quietness was all that I got. For a while, at last my common sense began to return. I called my sister, then all my relatives and friends who I could remember the names of. It worked! Not long after that, security began to come up to the floor where I live, maybe a neighbour heard my screams for help, and they called security downstairs. Not long after that, some of my relatives were also there. Thanks God
What made me even sadder was that she left 4 days before his birthday. Some of her sisters and I have even prepared something for her and also bought gifts. Planned to take her out for a dinner or staycation, since during this pandemic she rarely leaves the house. Unfortunately, it became a plan that would never happen.
Such a weird unpleasant day…
Days after that, I felt heavy every time I came home. Remember all the memories with her every time I come home. It’s sad to see all of her stuffs are still neatly stored in their place, as if she would go back to home and life goes on just like nothing had happened. Several people called to comfort me, yes people who have also felt the same grief. They said that the mourn will pass, but that wound of loss parents will never go away. Until today sometimes I can’t believe she’s gone. It was just the night before, we were chatting and joking as usual. My sister also feels the same way.
Mama is a strong woman who raised us by herself. She is an example of a human being who has high moral values and a sense of humanity. His hands are always giving, never asking for more. During her life, we as her children learned many examples from her. No complaints ever come out of his mouth, only love and advices to always faithful and be patient in life. Me and my sibling grew up only with her, went through many hardships and joys. Thanks for everything, Mom. We grateful for your life.
That time, I felt a sense of confusion, don’t know what to do next. Mom was our foundation and the prayer’s tower in this family. Losing her had us experiencing a lot of emotional turbulences. Moreover, the situation is also worse, due to the pandemic and several things that I have been lost since last 2020. Now, how can I go on with life without Mom?
Over time things began to return to normal, but the feeling of loss will never go away. Ironic, we never lost that feeling of loss. In the end, everyone will inevitably experience loss as long as we are human and alive. Who has power over time and death? It’s the mystery of our Creator. We can only define the values of that loss.
For a while within that storm of confusion, I tried to learn truly the meaning of mortal loss. Found that, appreciating and living in the moment is really precious, especially when something we appreciate so much is no longer there. We will all lost someone, for sure. Well, sometimes – in other contexts – we often lose ourselves, don’t we? But here I try to say something: when we are stressed and grieving in that loss, we will learn something: to become stronger, wiser, more understanding, more appreciative.
Remember some lyrics of Letto’s song, Memiliki Kehilangan: “The feeling of loss, will only exist if you ever feel like you have it” and Ed Sheeran’s Supermarket Flowers: “A heart that’s broke is a heart that’s been loved”, and I know I have loved and have been loved. Loss will never easy, my friends. However it’s also loss which will teach us a lot and strengthens our values and meaning, especially for our beloved ones.
Farewell Mom. Forever, we will never forget you.